Mongolia mungkin bukan termasuk negara yang menjadi favorit para wisatawan termasuk Indonesia. Selain karena negara tersebut cukup sepi, cuacanya juga terbilang sangat ekstrim sehingga bagi kalian yang tidak tahan terhadap suhu dingin disarankan untuk membawa pakaian yang sangat tebal. Meskipun negara tersebut berbatasan dengan gurun Gobi tapi Mongolia termasuk negara dengan daerah yang banyak tertutup salju.  Bahkan, Ulaanbaatar yang merupakan ibu kota negara tersebut dikenal sebagai salah satu tempat paling dingin di muka bumi. Rata-rata suhu negara tersebut saat musim dingin bisa mencapai -30°C.

Tradisi berburu di Mongolia

Mengenal Tradisi Mongolia Yang Hampir Punah

Hampir semua suku di Mongolia yang hidup dengan cara tradisional masih memegang tradisi berburu. Cara berburunya juga cukup unik dan setiap suku bisa memiliki cara yang berbeda tergantung daerah tempat mereka tinggal. Sebagai contoh, suku Dukha yang tinggal di daerah bersalju menggunakan rusa kutub untuk membantu mereka berburu di hutan semantara beberapa suku lain menggunkan binatang seperti elang.

Tradisi menggunakan elang untuk berburu kerap disebut dengan seni berkutchi. Tradisi ini kerap dilakukan di padang rumput di Asia yang terkenal sangat luas. Sayangnya, tradisi yang telah berlangsung selama generasi-ke genarasi ini sudah semakin sulit ditemui dan terancam punah.

Hingga sekarang, salah satu kawasan yang masih mempertahankan tradisi berkutchi adalah kawasan Altai yang terletak di Mongolia bagian barat. Daerah ini meski memiliki padang rumput yang luas tapi dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi yang puncaknya ditutupi oleh es tebal. Deretan pegunungan itulah yang telah melindungi kawasan tersebut dari modernisasi selama bertahun-tahun.

Meskipun seni berkutchi masih bisa ditemui di kawasan tersebut, jumlah orang yang mempraktekannya terhitung sedikit. Menurut beberapa sumber, hanya tersisa 250 orang pemburu di daerah tersebut yang masih mempertahankan seni berkutchi. Jumlah yang terbilang minim untuk melestarikan tradisi yang telah ada selama ribuan tahun.

Selama ini, untuk bisa bertahan para pemburu tersebut harus menjalani kehidupan dengan cara yang masih sangat tradisional dan jauh dari kata moden. Seperti dengan hidup berpindah-pindah tempat (nomaden), tinggal di dalam tenda yang disebut gers, mempertahan diri di musim dingin, melatih elang serta berburu menggunakan elang tersebut.

Hubungan antara pemburu dengan elangnya

Tradisi berburu di Mongolia

Sama seperti pemburu lainnya. hubungan antara pemburu dengan elang miliknya sangat kuat. Sebab, untuk bisa digunakan sebagai untuk berburu elang harus dilatih sejak masih kecil. Perlu kalian ketahui jika elang adalah binatang yang sangat independen sehingga untuk menjalin kepercayaan yang kuat dengan pemiliknya harus dilakukan sejak dini.

Oleh karena itu, semakin muda usia elang maka elang tersebut akan semakin jinak dan mudah dilatih. Anak-anak elang juga belum memiliki kekuatan sebesar elang dewasa sehingga tidak bisa menyakiti anak-anak atau domba yang masih kecil. Oleh sebab itulah, para pemburu mulai melatih anak-anak elang tersebut agar memiliki insting berburu yang kuat.

Tidak seperti kebanyak hewan pemburu lainnya, elang yang dilatih untuk berburu kebanyakan adalah elang betina yang sudah dewasa. Selain karena dinilai memiliki insting pemburu yang jauh lebih baik, elang betina juga lebih agresif dan bobotnya bisa 3 kali lipat lebih berat dari elang jantan. Oleh sebab itu, elang betina dirasa cocok digunakan untuk memburu hewan-hewan seperti serigala dan rubah yang banyak berkeliaran di daerah tersebut.

Tentu untuk melatih elang-elang tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Perlu waktu bertahun-tahun untuk melatih elang agar ahli berburu mencari mangsa. Barulah setelah dianggap siap elang tersebut akan dibawa untuk berburu dengan cara berkuda dan posisi elang bertengger di lengan kiri pemburu.

Karena masa pelatihan yang lama dan dimulai sejak dini,ikatan yang terjadi antara elang dengan pemburu sangat kuat dan dekat. Saking kuatnya bahkan ada beberapa sumber yang menyatakan jika perubahan kecil dari hewan tersebut bisa menjadi suatu tanda. Sebagai contoh, perubahan cengkraman elang di lengan pemburu bisa menjadi tanda adanya mangsa yang mendekat.

Jika hewan yang diburu memiliki ukuran yang kecil seperti kelinci maka pemburu biasanya akan memerintahkan elang miliknya untuk memburunya. Hal ini dikarenakan penglihatan elang yang lebih baik dibandingkan dengan penglihatan manusia. Meskipun para pemburu memiliki senjata sendiri tapi biasanya senjata tersebut hanya digunakan untuk mangsa berukuran besar.

Karena perburuan banyak dilakukan saat musim dingin, kebanyakan buruan yang diincar adalah rubah corsac dan marmot yang bulunya sering digunakan sebagai bahan pakaian untuk menghangatkan diri. Akan tetapi, untuk seekor elang pemburu yang kuat dan berpengalaman bisa saja mendapatkan binatang seperti serigala, burung hantu bahkan macan tutul salju. Hal ini bisa terjadi karena saat musim dingin elang menjadi kelaparan dan lebih kurus sehingga insting berburunya lebih kuat.

Yang menarik, meskipun tradisi berkutchi sudah semakin langka tapi pemerintah stempat tetap berusaha melestarikannya dengan mengadakan festival. Setiap bulan September, selalu diadakan festival untuk para pemburu dan elangnya di daerah Olgii. Festiva ini selalu menarik banyak penonton dan peserta karena hadiah uang yang ditawarkan cukup besar.