Pernahkah kalian mendengar nama Mongolia? Mungkin tidak banyak orang yang mendengar,mengetahui apa lagi mengunjungi negara tersebut. hal ini cukup wajar mengingat negara ini “terkurung” di antara negara-negara besar seperti Rusia dan China. Padahal, negara di Asia Timur yang memiliki luas hampir sama dengan daerah Alaska ini cukup menarik untuk ditelusuri.

Jika kalian berkesempatan berkunjung ke negara tersebut kemungkinan kalian akan terkejut dengan kehidupan masyarakat di sana. Berbeda dengan di Indonesia, Mongolia meskipun termasuk salah satu negara terluas di dunia tapi negara itu juga dikatakan sebagai salah satu negara paling sepi di dunia. Hal ini dikarenakan jumlah penduduknya yang bisa dikatakan sedikit. Berdasarkan sensus pada tahun 2018, jumlah penduduk di negara tersebut hanya berkisar 3,17 juta saja.

Mengenal suku Dukha

Mengintip Kehidupan Suku Dukha Di Mongolia

Meskipun wilayah negara tersebut cukup luas tapi hampir sebagian besar wilayahnya terdiri dari gurun dan stepa. Selain itu, kebanyakan wilayah Mongolia juga mengalami perubahan suhu yang sangat ekstrim setiap pergantian musim. Udara memang akan menjadi cukup panas saat musim panas tapi hal tersebut akan berubah menjadi sangat dingin saat musim dingin. Tidak tanggung-tanggung rata-rata suhunya bisa mencapai hingga -30°C.

Mengingat hal tersebut maka tidak heran jika banyak penduduk terutama yang berusia muda lebih memilih pergi merantau dibandingkan tinggal di lingkungan yang sangat ekstrem. Hal tersebut akhir menjadi penyebab banyak suku mulai terancam punah. Salah satunya adalah suku Dukha yang disebut-sebut sebagai suku penggembala rusa terakhir di muka bumi.

Sebagai penggembala rusa kutub, masyarakat suku tersebut terbiasa hidup berpindah-pindah dan mengikuti kemanapun rusa mereka pergi. Biasanya suku tersebut akan berpindah setiap 7-10 minggu sekali. Berpindah dari satu padang rumput di padang rumput lainnya. Namun, sayangnya seiring dengan berkembangnya zaman populasi rusa kutub sudah berkurang secara drastis sehingga menyebabkan kelangsungan suku Dukha ikut terancam.

Jika dulu suku tersebut bisa terdiri dari 2000 keluarga namun kini menurut salah sumber di sana kini hanya tersisa sekitar 40 keluarga saja dengan jumlah rusa kutub mencapai 1000 ekor. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat saat ini sudah tidak bisa ditemukan lagi suku yang serupa dengan suku Dukha ini. Jika dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin dalam kurun waktu 10-20 tahun kedepan suku Dukha dan segala tradisinya hanya tinggal cerita.

Makna rusa bagi suku Dukha

Suku Dukha Di Mongolia

Mengingat kehidupan suku tersebut yang sangat dekat dengan rusa kutub sering membuat orang lain bertanya-tanya. Apa sebenarnya arti rusa kutub bagi kehidupan suku tersebut? Apakah hanya dipandang sebagai suatu binatang ternak sumber makanan saja?

Bagi suku Dukha sendiri rusa merupakan bagian terpenting dari kehidupan mereka. Bahkan, rusa kutub sudah seperti lambang kebudayaan serta identitas suku tersebut. Hal ini dikarenakan suku Dukha telah hidup selama ribuan tahun di Mongolia bersama dengan binatang tersebut. Oleh sebab itu, mudah bagi orang-orang suku Dukha untuk menjinakan binatang tersebut.

Selain diternakan untuk bahan makanan, rusa kutub juga menjadi kendaraan utama bagi suku ini. Karena suku Dukha terbiasa hidup berpindah, mereka menggunakan rusa sebagai kendaraan untuk bepergian. Sungguh cara yang terbilang masih sangat tradisional.

Selain itu, rusa juga digunakan sebagai bahan pakaian. Bulu rusa yang tebal digunakan untuk melindungi dan menghangatkan diri saat musim dingin melanda. Selain itu, suku Dukha juga menggunakan susu rusa kutub untuk diminum dan diolah menjadi keju. Bahkan, rusa tersebut juga kerap digunakan untuk kegiatan berburu binatang di hutan.

Saling tergantungnya kehidupan suku ini dengan rusa-rusa mereka, suku Dukha juga sering disebut dengan nama Reindeer People (manusia rusa). Namun, sayangnya seiring berjalannya waktu populasi rusa kutub terus-menerus berkurang. Selain karena modernisasi yang membuat anak-anak muda suku Dukha lebih memilih pindah ke kota, faktor perburuan liar juga turut menjadi penyumbang.

Perlu kalian ketahui, saat ini rusa kutub banyak diburu oleh para penambang emas yang banyak berkeliaran di Mongolia. Sejak ditemukan cadangan emas di Mongolia dan dibukanya industri pertambangan membuat banyak populasi rusa kutub menurun akibat perburuan yang tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang membuat kehidupan suku Dukha semakin terpinggirkan.

Mengingat hal tersebut, beberapa pihak mulai menjadikan suku Dukha dan rusa-rusanya menjadi salah satu atraksi wisata. Hal ini terbukti cukup efektif mendatangkan pemasukan bagi suku tersebut dan mulai banyak perusahaan travel yang memasukan wisata suku Dukha dan rusa-rusanya kedalam paket perjalanannya.

Namun, hal tersebut bukan tanpa sisi negatif. Karena menjadi atraksi wisata, suku Dukha banyak yang pindah ke daerah yang lebih hangat dan nyaman untuk membuat turis lebih nyaman. Akan tetapi, hal tersebut justru dinilai membahayakan kelangsungan hidup rusa-rusa kutub tersebut karena dibawa ke tempat yang sangat berbeda dengan habitat aslinya. Sayangnya, hal tersebut masih banyak dilakukan mengingat sekarang situasi dan kondisi suku tersebut semakin memprihatinkan. Banyak diantaranya yang menggunakan pendapatan dari turis untuk bertahan hidup saat musim dingin.